Jumat, 10 April 2009

Pesan untuk para Caleg

Menang Kalah Suatu Hal yang Wajar

Sebelumnya saya pernah menulis bahwa hidup ini hanya ada dua hal yaitu Gelak Tawa dan Air mata. Tidak ada satupun manusia yang bisa mempertukarkan seluruh air matanya hanya dengan gelak tawa. Demikian juga sebaliknya. Tidak ada manusia yang hanya dikaruniai air mata tanpa gelak tawa. Kedua-duanya senantiasa hadir dalam waktu yang bergantian.
Untuk itu saya selaku masyarakat biasa ingin menyampaikan selamat kepada partai dan Caleg yang mendapatkan suara terbanyak dalam pemilu ini dan sekaligus menyampaikan selamat juga kepada partai dan Caleg yang belum mendapatkan suara yang sesuai dengan angan-angannya.
Yang Kalah hal ini merupakan pelajaran yang sangat berarti bahwa apa yang diyakini, dipelajari dan dipersiapkan selama ini ternyata masih belum diminati oleh masyarakat pemilih pada umumnya artinya ada hal-hal yang harus dipelajari dan dipersiapkan lagi namun yang lebih penting lagi harus ber Syukur kepada ALLAH SWT karena telah terbebas dari beban janji-janji yang disampaikan kepada masyarakat saat kampanye pemilu.
Yang Menang hal ini merupakan tantangan besar yang harus diselesaikan selama masa 5 tahun kedepan beban ini sangat berat jangan disiasiakan mengingat masyarakat telah mempercayakan kepada Anda untuk menyampaikan aspirasinya kepada pemerintahan mendatang, Anda telah masuk kepada step berikutnya yang merupakan awal dari permasalahan-permasalahan baru yang menjadi tanggung jawab anda.
Juara Sejati adalah orang-orang yang selalu berpikir dan berpikir untuk menang namun tidak takut kalah karena kalah adalah suatu proses untuk berpikir lebih baik menuju kemenangan.

“Tips” Ada suatu cerita yang disampaikan oleh seorang Ustad bulan Maret 2009 lalu disuatu Masjid di Ketintang Surabaya. Beliau menceritakan bahwa ada seseorang laki-laki umur sekitar 25 tahun bersedih karena kehilangan Kuda piaraan satu-satunya yang dimiliki, setelah mencari beberapa waktu tidak ketemu ternyata kudanya kembali dengan membawah temannya sebanyak 5 ekor kuda baru, laki-laki tersebut bergembira dengan riangnya dan merawat kelima kuda yang baru didapatkannya, tiba pada saat yang naas laki-laki tesebut lupa bahwa kelima kuda barunya itu berasal dari kuda-kuda liar yang ada dihutan, tanpa punya perasaan kawatir diperlakukannya kelima kuda tersebut seperti kuda piaraannya dan apa yang terjadi kelima kuda tersebut berontak dan menginjak-ijaknya sampai beberapa tualang rusuknya patah, laki-laki tersebut kesakitan dan bersedih dengan kejadian tersebut dia harus berbaring diranjangnya berminggu-minggu. Setelah berselang beberapa waktu terjadi peperangan yang melibatkan negaranya dimana pemerintah mengharuskan semua laki-laki seusiannya dikirim ke medan perang dan Dia satu-satunya yang tidak dikirim karena pernah patang tulang ia bahagia dan bersyukur tidak dikirim ke medan perang.
Inilah kehidupan yang harus senantiasa di syukuri.

Karunia”ALLAH SWT”
Herry sumiharyanto.

Jumat, 03 April 2009

Partai Politik

Akhir-akhir ini sering sekali kita mendengar semacam keluhan atau ungkapan keprihatinan dari beberapa pihak bahwa partai-partai politik cenderung cuma mengutamakan kepentingannya sendiri. Partai-partai politik kita, katanya, tidak berorientasi pada kepentingan rakyat. Sejumlah penilaian juga banyak diajukan, seperti, antara lain, bahwa partai-partai poitik tidak memiliki visi dan misi yang jelas, atau malah belum berfungsi sebagaimana mestinya sebagai sebuah partai politik moderen. Diajukan pula oleh berbagai pihak sejumlah “bukti” dimana para politisi sibuk dengan urusan dan kepentingannya sendiri, bahkan ada pula yang -benar atau salah- mulai terlihat melakukan tindak penyelewengan, baik untuk kepentingan pribadi maupun terutama partai politiknya sendiri. Partai politik telah dikatakan telah tereduksi menjadi semata-mata kendaraan untuk berburu kekuasaan, dengan mengorbankan nasib rakyat. Bidang politik belum dipandang sebagai lapangan perjuangan dan pengabdian untuk rakyat, bangsa dan negara, serta menegakkan yang benar dan mencegah yang munkar. Politik semata-mata dipahami sebagai politik rendah (low politics), yakni politik yang cenderung hanya untuk meraih kekuasaan.


Kebenaran dari semua penilaian, kritik, keluhan, atau keprihatinan semacam itu tentunya masih memerlukan pengkajian yang lebih adil dan serius. Tetapi jika apa yang disinyalir oleh banyak kalangan ini benar-benar terjadi maka tentu ini sebuah ironi yang luar biasa. Sebab sebuah partai politik itu didirikan adalah sebagai wahana (vehicle) untuk menuangkan kepentingan rakyat. Sebuah partai politik didirikan oleh kekuatan-kekuatan masyarakat yang riil, dan hanya bisa bertahan jika masih mendapatkan dukungan rakyat. Hanya oleh karena masih dipercaya rakyat sebuah partai politik mendapatkan dukungan rakyat. Jika sebuah partai tidak lagi mendapatkan dukungan rakyat -dukungan ini antara lain ditunjukkan dalam pemilu- maka partai itu tidak akan survive, dan itu berarti berakhir eksistensinya. Dalam konteks, ini maka ironis jika partai yang didirikan dengan semangat untuk rakyat itu disinyalir sebagai tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat. Disini ada semacam contradictio in ternimis, atau pertentangan dalam dirinya sendiri. Sebab, sekali sebuah partai politik tidak lagi memperjuangkan kepentingan rakyat maka berarti bukan lagi sebuah partai politik. Partai politik pada hakekatnya adalah kekuatan rakyat yang terorganisir secara rapi dan sistematis untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Sebagai sebuah organisasi yang didirikan oleh kekuatan-kekuatan riil dalam masyarakat, maka sebuah partai tentu memiliki visi, misi, dan platform politiknya sendiri sebagaimana mestinya sebuah partai politik yang modern.



Referensi dari tulisan pakar politik Akbar Tanjung.

Minggu, 15 Maret 2009

Gelak Tawa dan Air Mata

Hidup setiap orang - kalau boleh disederhanakan -
hanyalah kumpulan dua hal : gelak tawa dan air mata.

Tidak ada satupun manusia yang bisa mempertukarkan seluruh air matanya
hanya dengan gelak tawa. Demikian juga sebaliknya. Tidak ada manusia
yang hanya dikaruniai air mata tanpa gelak tawa. Kedua-duanya senantiasa
hadir dalam waktu yang bergantian.

Mirip dengan datangnya musim, setelah musim hujan datang musim kemarau.
Orang-orang yang menyesali air mata sama dengan orang yang menyesali
datangnya musim. Disamping sia-sia, ia juga tidak menemukan makna dalam
yang hadir di balik cucuran air mata.

Referensi : Gede Parma